Wajibnya bersyukur kepada yang berbuat baik

Wajibnya bersyukur kepada yang berbuat baik

. Para salaf sangat menekankan adab dalam bersyukur dan berterima kasih, terutama kepada orang yang telah berjasa dalam membela agama, mengajarkan ilmu, atau menuntun kepada kebaikan. Rasa syukur mereka bukan hanya dengan ucapan, tapi juga dengan mendoakan, mengingat, mengakui, menjaganya dan tidak merendahkan, tidak mencelanya, dan berlaku dengan adil, dan melanjutkan kebaikan yang diajarkan.

1. Syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada manusia

✒️ Dari Rasulullah ﷺ:

> «مَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ»
(HR. Abu Dawud no. 4811, Tirmidzi no. 1954, shahih).

Artinya: “Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”

Salaf mengambil hadits ini sebagai pedoman untuk mendoakan dan memuliakan orang-orang yang berjasa bagi mereka.

2. Ucapan para salaf tentang guru dan pembela sunnah

a) Imam Ahmad رحمه الله berkata tentang gurunya (Syaikhul Islam asy-Syafi‘i):

> «مَا صَلَّيْتُ صَلَاةً مُنْذُ أَرْبَعِينَ سَنَةً إِلَّا وَأَنَا أَدْعُو لِلشَّافِعِيِّ»
(Siyar A‘lām an-Nubalā’ 10/45)

Artinya: “Aku tidak pernah shalat sejak 40 tahun kecuali aku selalu mendoakan asy-Syafi‘i.”

→ Ini bentuk nyata syukur salaf kepada orang yang mereka ambil ilmunya.

b) Al-Imam al-Bukhari رحمه الله berkata tentang gurunya (Imam Ahmad):

> «مَا اسْتَصْغَرْتُ نَفْسِي عِنْدَ أَحَدٍ إِلَّا عِنْدَ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ»
(Tarikh Baghdad 4/419)

Artinya: “Aku tidak pernah merendahkan diriku di hadapan seorang pun kecuali di hadapan Ahmad bin Hanbal.”

→ Tanda tawadhu‘ dan pengakuan besar jasa guru.

c) Ucapan Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما tentang Zaid bin Tsabit رضي الله عنه:

Ketika Zaid wafat, Ibnu Abbas berkata:

> «هَكَذَا يَذْهَبُ الْعِلْمُ، أَلاَ قَدْ دُفِنَ الْيَوْمَ عِلْمٌ كَثِيرٌ»
(HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/459)

Artinya: “Beginilah ilmu pergi; sungguh hari ini banyak ilmu telah terkubur.”

→ Beliau bersyukur dan mengakui jasa sahabat yang lebih alim.

3. Prinsip Syukur Salaf

1. Mendoakan kebaikan bagi guru dan pembela sunnah.

2. Mengakui jasa mereka secara terbuka.

3. Mengikuti dan menyebarkan ilmunya sebagai bentuk syukur yang hakiki.

4. Tidak melupakan kebaikan meskipun terjadi perbedaan dalam sebagian perkara.

Ringkasan

Salaf mencontohkan syukur dengan ucapan doa, pengakuan keutamaan, dan melestarikan ilmu. Seperti Imam Ahmad mendoakan Syafi‘i selama puluhan tahun, dan Ibnu Abbas mengakui wafatnya seorang alim sebagai hilangnya banyak ilmu.

Risalah ilmiah Pondok Pesantren Ath thoifah Almanshuroh. Deliserdang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *