Bahaya mencela orang sholeh

Bahaya Mencela Orang Shalih karena Kemiskinannya

Hina-menghina dan merendahkan seorang muslim, apalagi orang yang taat dan beramal shalih, adalah dosa besar.

Menjadikan kemiskinan dunia sebagai alasan untuk meremehkan hamba Allah adalah bentuk kesombongan dan kedustaan terhadap nikmat Allah.

Dalam pemahaman salaf, kehormatan seorang muslim diukur dengan taqwanya, bukan dengan harta.

 

Dalil-dalil Al-Qur’an

1. Kemuliaan di sisi Allah hanya dengan takwa

 

> قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ }
(الحجرات: 13)

 

Artinya:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”

Dalil ini menegaskan: kemuliaan bukan karena kaya atau miskin, tapi karena takwa.

 

2. Larangan merendahkan sesama mukmin

 

> قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ }
(الحجرات: 11)

 

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok itu lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)…”

Ayat ini melarang keras merendahkan orang lain, walau miskin.

 

Hadits Nabi ﷺ

1. Kemuliaan bukan dengan harta

 

> قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»
(رواه مسلم: 2564)

 

Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati kalian dan amal kalian.”

Hadits ini menunjukkan: nilai manusia di sisi Allah bukan pada kekayaan, tapi pada amal dan hati.

 

2. Orang miskin yang taat lebih mulia di sisi Allah

 

> عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَقَالَ: «مَا تَقُولُونَ فِي هَذَا؟» قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَنْ يُسْتَمَعَ. ثُمَّ سَكَتَ. فَمَرَّ رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ، فَقَالَ: «مَا تَقُولُونَ فِي هَذَا؟» قَالُوا: حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لَا يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لَا يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَنْ لَا يُسْتَمَعَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلَ هَذَا»
(رواه البخاري: 6447، ومسلم: 2622)

 

Artinya:
“Pernah lewat seorang kaya, Nabi ﷺ bertanya: ‘Apa pendapat kalian tentang orang ini?’ Mereka berkata: ‘Orang ini pantas jika melamar akan dinikahkan, jika memberi syafaat akan diterima, dan jika berbicara akan didengarkan.’ Lalu lewat seorang miskin, Nabi ﷺ bertanya: ‘Apa pendapat kalian tentang orang ini?’ Mereka menjawab: ‘Orang ini jika melamar tidak pantas dinikahkan, jika memberi syafaat tidak akan diterima, dan jika berbicara tidak didengarkan.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Orang miskin ini lebih baik di sisi Allah daripada sepenuh bumi orang seperti (orang kaya tadi).’”

Hadits ini tegas melarang mengukur kemuliaan manusia dengan harta.

 

Perkataan Ulama Salaf

Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata:

> “المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه، والفاجر يرى ذنوبه كذباب مر على أنفه فقال به هكذا.”
(رواه البخاري معلقًا: 6308)

 

Artinya:
“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung yang ia takut akan menimpanya, sedangkan orang fajir melihat dosa-dosanya seperti lalat yang lewat di hidungnya lalu ia usir begitu saja.”

Orang beriman meskipun miskin, tetap mulia karena takut kepada Allah dan menjaga lisannya.

 

Kesimpulan

Menghina orang shalih karena miskin = dosa besar, bisa menjerumuskan kepada kesombongan dan meremehkan takwa.

Dalil Qur’an dan Sunnah menegaskan bahwa kemuliaan bukan karena harta, tapi karena takwa dan amal shalih.

Salaf mengingatkan bahwa lisan adalah penyebab kebinasaan, maka harus dijaga dari mencela dan meremehkan orang lain.

Risalah ilmiah Pondok Pesantren Ath thoifah Almanshuroh. Deliserdang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *